Hantu Masa Lalu


“Cium aja! Ayo cepet, kalo gak kamu yang aku pukul.Cepetan!”perintah Rio kasar.

Didi berusaha mundur sekuat tenaga walaupun ada dua orang yang mencengkeram, satu tangan kirinya dan satu lagi tangan kanannya. Berusaha mendorong maju ke arah pojok kelas di mana aku berada. Aku merasa ingin menangis, malu, marah tetapi tak kuasa untuk kabur karena tangan Rio mencekal lengan kananku kuat-kuat. Akhirnya Didi tak lagi punya sisa tenaga untuk melawan, dia mencium pipi kiriku sekilas bersamaan dengan melemahnya cengkeraman lalu menghambur keluar kelas. Seketika kakiku lemas, terduduk di lantai. Menangis sejadi-jadinya. Aku masih kelas tiga sekolah dasar saat itu.

“Halah gitu aja nangis, cengeng. Aku kan cuma bercanda,”ucapnya enteng
Rio adalah momok, tidak hanya bagiku tetapi juga untuk teman-teman satu kelasku. Badannya tinggi besar, membuat anak-anak seusiaku harus berpikir ekstra untuk melawan. Sudah dua kali tidak naik kelas.

Setiap hari dia selalu membuat onar dan kegaduhan. Melakukan penggencetan sebagai hiburan untuk dirinya sendiri. Merasa sangat bahagia melihat mimik ketakutan orang lain. Merasa sangat puas ketika bisa membuat orang lain menangis. Bagi para guru, adalah hal yang dilarang untuk memberi nasehat atau hukuman. Rio adalah anak kepala sekolah sekaligus penyandang dana terbesar di sekolah. Menghukum Rio, sama seperti mengantarkan nyawa.

Ingatan itu selalu berulang. Muncul tiba-tiba seperti hantu, membuat bulu kuduk merinding.

Sejak saat itu, bagiku malam adalah mimpi buruk. Ingatan itu menghantui di setiap mimpi. Aku akan bangun dengan keringat mengalir deras. Jantung berdetak  sangat  kencang, bukan euforia saat bertemu dengan gebetan. Namun rasa ingin berteriak. Berharap setelah teriakanku berhenti, ingatan itu akan menghilang.

“Ibu harus menyingkirkan semua benda-benda tajam di rumah. Lalu cairan atau bahan-bahan berbahaya seperti sabun, obat nyamuk cair atau segala jenis minyak,” perintah yang terdengar lembut seperti sebuah saran.

Hingga di hari yang ke enam puluh sejak kejadian laknat itu, tiba-tiba aku merasa anehan tetapi gembira, sungguh aku juga kebingungan. Aku bangun lebih pagi dari biasanya, mandi dan meminta ibuku mengepang rambutku. Aku benar-benar menikmati sentuhan ibu pada rambutku, perlahan dan hangat. Aku berusaha sebaik mungkin mengingat rasa hangatnya. Rasa disayang dan diperhatikan oleh ibu. Nyaman. Rasa nyaman itu membantu untuk mengumpulkan segenap keberanianku.

“Eh ada gadis kepang hari ini, asyik berarti aku gak akan bosan,” celoteh Rio.

Aku tersenyum, licik. Rasa kemenangan menyeruak. Aku sudah cukup berjuang melalui hari-hariku. Aku sudah lelah. Aku ingin melanjutkan hidupku. Hidup yang bahagia. Hidup yang aku miliki sebelum kejadian laknat itu.

Aroma darah mengisi seluruh ruangan kelas. Rio memegang perutnya, seolah bisa menghentikam aliran darah yang masih deras mengalir. Aku memandanginya dengan penuh kemenangan. Menunggu detik-detik kematiannya. Mati kehabisan darah. “Mati kau! Mati kau! Matiii!”

“Dek, bangun! Bangun! Kamu mimpi apa?”

Aku bangun dengan posisi terduduk di ranjang. Menengadahkan tangan lalu penasaran. Kenapa tidak ada pisau di tanganku? Kenapa tidak ada darah di tanganku?

“Kamu mimpi apa? Kenapa berteriak mati kau, mati kau?”

Tunggu, siapa laki-laki ini? Kenapa dia ada satu ranjang denganku?

Pandanganku menyapu seluruh ruangan.  Aku  memperhatikan lebih teliti lagi. Berusaha menyatukan semua ingatan. Foto pernikahan di meja rias memperjelas ingatanku.

Aku ada di ranjang, artinya aku tidur. Dalam tidurku aku bermimpi yang sama. Mimpi yang selalu ada selama masa dua puluh lima tahun hidupku. Mimpi yang seperti suster ngesot bangsal tiga belas yang terus menghantuiku. Namun kali ini endingnya beda. Aku berhasil membunuh si laknat itu. Aku berhasil membunuhnya dengan pisau dapur yang biasa dipakai ibu. Pisau yang aku ambil diam-diam dan aku masukkan ke dalam tas sekolahku saat ibu terbuai dalam tidurnya.

“Kamu mimpi itu lagi ya Dek? Mimpi kejadian saat kamu kelas 3 SD?” dia bertanya lagi sambil merengkuh tubuhku. Berusaha menguatkan.
Rasanya sungguh nyaman. Sama seperti sentuhan ibu. Membuatku merasa tak sendiri.

“Ya Mas, mimpi itu lagi. Tetapi kali ini aku berhasil membunuhnya. Aku sudah melihatnya mati. Berarti aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Tidak di mimpiku,” jawabku yakin.

“Oke, bagaimana kalau kita ke dapur? Kita buat cokelat hangat untuk menyegarkan pikiran. Setelah itu, kamu akan buat janji dengan psikiater ya. Bilang bahwa hari ini adalah hari terakhir terapi kamu. Bilang kalau kamu sudah berhasil membunuh dia yang gak perlu disebut namanya,” ujarmu sembari beranjak dari tempat tidur.

Lengkap sudah puzzle bergambar hantu masa laluku. Hantu yang aku yakin tak akan muncul lagi dalam mimpiku. Aku akan melanjutkan hidup.




Setiap orang memiliki versi ibu masing-masing. Baik mereka yang punya hubungan akur atau meninggal atau ditinggal nge-pherek, atau ada tetapi tiada karena hanya tentang uang dan uang setiap kali berkomunikasi.

Ada beberapa ciri yang bisa kamu temukan di dirimu jika kamu punya luka yang berhubungan dengan ibu atau mama atau mami:

  1. Cuek dengan tubuhmu sendiri
  2. Merasa 'too much' atau 'not enough'
  3. Kecemasan, depresi, makan atau minum terlalu banyak/terlalu sedikit, ketergantungan (gadget, minuman keras, rokok, gula, obat-obatan terlarang, hal-hal porno)
  4. Menghindari konflik atau masalah hanya untuk 'ketenangan'
  5. Sangat berjuang untuk membuat atau mengelola batasan yang sehat
  6. Menghapus kesakitan dengan penghiburah ahhh 'tak sesakit itu'
  7. Merasa bertanggung jawab untuk 'kebahagiaan' orang lain
  8. Menenggelamkan diri agar dicintai alias mengorbankan diri agar dapat perhatian orang lain
Jika kamu merasa ada satu atau lebih tanda di atas, sebaiknya ke psikolog atau psikiater. mendiagnosa secara mandiri bisa jadi malah menambah parah gangguan.

Memang tidak ada kata terlambat tetapi semakin cepat ditangani maka untuk memperoleh kestabilan emosi yang bertahan lama, mungkin bisa sampai 90%. Tudak melulu harus minum obat, lagipula obat dari psikater bukan obat yang dapat menyebabkan kecanduan. Apalagi obat tersebut merupakan racikan yang tidak bisa kamu dapat bebas di luaran. 

Sebagai pertolongan pertama, kamu harus klarifikasi dulu hubunganmu dengan ibumu waktu kecil. ibumu merupakan pembasuh lukamu. Mau setragis apapun traumamu, selama ibumu ada di sisimu maka akan cepat sembuhlah kamu. Yang perlu kamu ingat, ibumu juga punya trauma sendiri. Jangan terlalu menyalahkan dirimu juga ibumu. Cobalah memberikan pemakluman yang lebih. Menerima apa yang kamu butuhkan ternyata tidak dapat kamu dapatkan kemudian tidak apa-apa jika kamu berduka untuk keadaan yang tidak ideal sesuai sama yang kamu harapkan. Yang terakhir, mempelajari yang telah terjadi sehingga tidak terulang lagi adalah seperti mengoles obat merah di lukamu. 

Tolong, stabilah! Kamu cukup. Sayangilah dirimu sebelum kamu menyayangi orang lain. Jangan berpikir apotek tutup alias gak ada obat. Setiap penyakit, fisik atau mental, akan selalu ada obatnya. 

(1019)

Komentar