
“Mas, duniaku ternyata tidak sepenuhnya runtuh kalau kamu masih selingkuh. Umurku tidak lantas memendek hanya karena kamu mendua. Betul aku akan merasakan sakit hati dan kecewa serta susah percaya. Namun apakah aku harus terus berkubang dalam lumpur itu? Tidak, Mas. Aku akan berproses memoles diriku layaknya berlian. Aku melewati dirimu seperti kamu tidak mengutamakan hatiku. Kita sama-sama berpijak kuat. Aku dengan imanku, kamu terus dengan nafsu olengmu.”
Rei Kaif menemukan catatan di kertas berwarna merah menyala. Seperti namanya Gemintang Nyala Agnimaya, seperti nyala bintang kebijaksanaan. Tidak sedikitpun Rei Kaif menemukan tanda Nyala akan meninggalkannya. Mereka baik-baik saja. Ya Nyala tetap melayaninya layaknya tidak tahu apa-apa.
Mau mencari kemana? Rei Kaif sama sekali tidak ada bayangan kemana tujuan istrinya.
Foto Nyala terpampang nyata di banyak lokasi. Dibuat
seribuan lembar.
SAYEMBARA BERHADIAH 50 JUTA UNTUK YANG BISA MENEMUKAN GEMINTANG NYALA AGNIMAYA.
Rei Kaif tidak menyangka jika hasutan iblis begitu luar biasa. Sedikit saja kesalahan Nyala, sudah seperti fatal di matanya. Namun Pherek begitu mempesona sehingga Rei Khaif tega menggadaikan imannya untuk kesenangan sesaat.
Satu bulan berlalu, tidak ada yang menemukan. Rei Kaif naikkan lagi hadiahnya menjadi 100 juta.
3 bulan berlalu, tidak ada yang menemukan. Rei Kaif naikkan lagi nominalnya menjadi 150 juta.
Anak-anak mulai bertanya-tanya kemana ibunya? Kok tidak pulang-pulang juga.
Akhirnya Rei Kaif di sisa-sisa peluang yang dia punya, 250 juta. Beberapa menit terpasang, sudah ada telepon masuk.
“Ngapain buang-buang uang buat nyariin orang yang udah gak mau diperjuangkan?”
Tanpa basa-basi Rei kaif menutup telepon, sudah jadi tekad yang bulat untuk meninggalkan selingkuhannya itu. Terduduk di sofa panjang, Rei Kaif memutar ingatan tentang masa-masa indah bersama Nyala. Istrinya adalah tipe manusia ceria, ekspresif, cepat bosan, sangat ingin tahu khas anak-anak; rasa muak menyeruak, Rei Kaif merasa tidak terima dibandingkan dengan ayah Nyala.
“Bukankah aku suaminya. Kenapa aku seperti mengasuh anak-anak? Anakku ada tiga jadinya. Sementara aku juga ingin diperhatikan.”
Nah, Rei Kaif sadar. Beberapa bulan sebelum kehilangan Nyala, ada banyak perubahan tetapi tidak disadarinya. Nyala tidak lagi protes ketika Rei Kaif pulang kerja langsung bergelut dengan gadgetnya. Alasan lembur lah, ada tenggat proyek yang mendekat lah, atau sekedar melepas lelah yang akhirnya ketiduran; tanpa ada interaksi dengan anak-anak hingga pagi lagi. Nyala memasak makanan yang Rei Kaif sukai, beberapa kali mendapati Nyala menelpon ibu mertua untuk menanyakan takaran bumbu yang pas. Rei Kaif suka.
Apakah sudah terlambat untuk kembali ke kehidupan bersama
Nyala?
Bel berbunyi mengembalikan Rei Kaif ke kenyataan, ternyata cintanya pada Nyala nyata adanya. Pherek hanya pelampiasan nafsu semata.
“Nyalaaa…”
Rei Kaif bersimpuh memegang kedua kaki istrinya, “Maafkan aku, dek. Aku mau berubah. Aku akan berjuang semaksimal mungkin untuk memperbaiki diriku dan rumah tangga kita.”
Nyala menggeser kakinya, meminta Rei Kaif berdiri.
“Siap, Mba,” sahut Nyala puas.
*****
Begitu bangun, langsung
ngecek hp. Tujuan pertama adalah cek in aplikasi sh*pee biar dapat poin. Main
beberapa permainan untuk koin tambahan. Kemudian pindah ke aplikasi tikt*k
karena reward juga untuk poin juga untuk nonton video. Gegoleran gak
produktif. Makan juga pasti nonton you*ube the Shanty Denny yang sedep banget makan
bakso. Nah kalau bosen gimana? Ya hidup jadi gak bisa menikmati hal-hal
sederhana kaya ngobrol ‘deep’ sama pasangan, baca buku walau hanya beberapa
halaman,
Lama-lama kepikiran, kebiasaan
ini sepertinya yang membuat hidup kamu begini-begini saja. Hidup
kamu rasanya hambar dan gak berwarna. Sehari-hari, banyak waktu dihabiskan
untuk scrolling hp (sosial media dan platform yang mengurangi fokus kita jadi
sekitar 3 sampai 5 menit saja), ketergantungan gula atau makanan cepat saji
yang mengandung banyak garam, serta yang paling parah adalah kecanduan konten
yang nyerempet pornografi dan pornoaksi. Belum lagi toko-toko online yang
menawarkan diskon sehingga mudah kalap saat berbelanja tanpa sadar
barang-barang tersebut bukanlah kebutuhan utama.
Yang sudah nonton Inside Out 2 pasti merasa
terpantik. Bahwa semakin menuju dewasa maka Joy semakin berkurang, bahkan untuk
mendapatkan waktu mengelola kesedihan pun sulit. Kamu sibuk mikirin hal-hal
yang belum tentu terjadi. Kesenangan instan yang bisa kamu bisa dapatkan adalah
gadget yang ada di depan mata atau yang digenggaman. Kemudian merasa cemas, iri,
bosan, malu; perasaan negatif yang seharusnya dirasakan, semakin tua maka akan
semakin kamu tekan. Sadar atau tidak sadar. Terus kecanduan hal-hal yang
negatif tersebut.
Dopamine mengambil alih. Otak menjadi malas. Di
sisi lain ingin lepas tetapi kebahagiaan sesaat begitu mengikat. Kamu dibajak
oleh otak, pikiran, dan juga emosimu sendiri. Lantas bagaimana untuk kembali ke
dirimu yang sesungguhnya? Mudah untuk bilang, jangan sampai kecemasan
mengontrolmu! belum lagi tsunami informasi yang membuat kamu berpikiran
berlebihan. Meditasilah. Biarkan tubuhmu mengenali lagi otak, pikiran, juga
emosimu. Dengan mengelola otak dan juga emosi atau perasaan maka pikiran kamu
akan tenang. Pikiran yang tenang tentu membantumu mengatasi situasi apapun.
Bukannya malah diam-diam menumpuk eh bom emosi kamu meledak. Diam-diam memendam
kekecewaan kok tiba-tiba ke-gap selingkuh. Iya sih semua orang akan menunjukkan
siapa mereka sesuai waktunya tetapi jika mampu memberikan kualitas yang baik,
kenapa memilih menampakkan yang buruk?
Dopamine ini hormon kesenangan. Sebenarnya dengan
merawat diri, kamu bisa mengeluarkan hormon dopamine. Namun ada kalanya kamu
bangun terlalu pagi dan pulang terlalu larut sehingga tidak sempat memberi diri
jeda. Di sinilah kamu membutuhkan bantuan hormon lain untuk men-detox dopamine.
Olahraga untuk endorfin misalnya. Bagi yang sudah memiliki pasangan SAH, bisa
mengeksplorasi gaya-gaya memadu kasih. Jangan nonton tetapi praktek. Jangan
gila-gila setia alias setiap tikungan ada apalagi sewa-sewa yang tak terjaga.
Dapat endorfin kagak, kena penyakit iya.
Bisa jadi kamu kecanduan dopamine karena kamu
terlalu lelah dengan saran-saran dari lingkunganmu. Padahal kebanyakan dari
mereka yang memberi saran atau nasihat tersebut, tidak benar-benar paham apa
dan bagaimana situasimu. Mulailah membaca buku-buku yang berhubungan dengan
masalah yang sedang kamu hadapi. Kamu berada dalam damai kalau mengelola yang
ada digenggamanmu. Bukan yang ada di luar kamu. Terima saja hal-hal yang tidak
bisa kamu kendalikan. Semakin menyangkal maka semakin terluka.
Jangan terjebak di masa lalu. Selalu niatkan
membatasi waktu scrolling untuk mendapatkan pembelajaran. Move on,
syukur-syukur bisa move up. Karena masa lalu bukan untuk bersaing. Letakkan
pada tempatnya. Ketemu dengan mereka-mereka yang kualitasnya di atas kamu juga
jang anggap mereka saingan, jadikan partner untuk bekerjasama. Yakinlah setelah
itu kamu akan merasa jauh lebih baik. Oksitosin membantumu saat bersosialisasi
dan membantu orang lain.
Ketika kamu merasa aman dan nyaman dengan dirimu sendiri, itulah tanda proses dopamine detoxmu berhasil.
(1066)

Komentar
Posting Komentar