Cilok, Aci Dicolok



Bunyi berderit dari angkot yang aku tumpangi tidaklah mengganggu. Lalu menyusul bau bensin menyeruak, begitu menusuk. Bukan itu, sungguh. Bukan itu yang membuat perutku gaduh. Hingga tanpa sadar menelan ludah.


Aroma cilok panas bersatu dengan saus botolan murah, yang entah benar atau tidak, dibuat dari campuran cabe dan tomat busuk. Lalu bumbu kacang yang digerus kasar. Menjadikan gurih begitu menggelitik lidah dan menyisakan kecanduan. Terakhir, tidak boleh tertinggal adalah kecap. Manis sebagai tameng terakhir saat lidah diserang pedas dan gurih yang dominan.

Cilok itu ada digenggaman anak kecil dengan rambut kusut. Anak perempuan di pangkuan seorang ibu yang mukanya gosong. Akibat terlalu sering terpapar langsung panas matahari. Duduk risih. Tepat di depanku.

Uap-uap lembut mulai muncul di plastik putih transparan. Aku menatap bungkusan itu, tanpa sadar hingga melotot.

Uap-uap panas menghamburkan aroma. Begitu menggelitik hidung hingga aku berulang kali menelan ludah.

Kapan terakhir kali aku merasakan makanan sedap? Semua makanan mahal dan mengaku sehat itu sungguh enak tetapi hanya menjadikan perut kenyang. Setelah itu? Hampa.

"Neng, udah sampe Pulogadung nih. Bangun!" Supir angkot 28 menggoyang dengan keras tubuhku.

Aku membuka mata dan berusaha mengingat semua rasa yang menyelinap di indera pengecapku. Terus mengingat agar rasa cilok itu menempel terus. Panas, pedas, dan gurih.

Aku bangkit, mengulas senyum tanda meminta maaf. Satu lembar lima ribuan ditambah dua lembar seribuan membuat pak supir sumringah. Tidak banyak yang dengan ikhlas memberinya tarif sesuai kenaikan BBM.

Aku menyapu semua arah. Mencari gerobak-gerobak yang mungkin menjajakan cilok. Jajanan murah meriah dari campuran tepung kanji dan tepung terigu. Dibentuk bulat-bulat agar di dalamnya bisa diisi potongan daging. Daging yang minimalis. Akan tetapi minimalis itulah yang mampu mengobati kerinduan.

Dulu, akulah yang bertugas menyiapkan panci dan merebus air. Jika air sudah mendidih cilok-cilok dimasukkan. Bapakku akan mengaduk sesekali. Dari tubuhnya selalu memancarkan wangi manis. Entah bumbu rahasia apa yang dimasukkan. Serupa minyak wijen yang aromanya tidak tertahankan. Jika Bapak ada di sampingku maka udara di sekitar pun melembut dan jadi menyenangkan. Itulah kenapa aku tak pernah bosan makan cilok. Aromanya selalu mengingatkanku akan Bapak. Bapak yang lembut dan menyenangkan.

Antrian sudah terlihat ketika aku memasuki tempat parkir. Pelayan-pelayan mengangguk hormat. Aku duduk di kursi dekat kasir.

"Ciloknya dimakan dulu sana!" perintah tegas ibu kasir.
"Aku shift malam kan?" tanyaku sambil memasukkan cilok.

Begitu masuk mulut rasanya seperti meleleh. Air mata tanpa sadar meleleh.

"Kamu tadi ke makam Bapakmu?"
Anggukan cukup untuk menjawab. Aku meyeka air mata dan mengusap ingus yang juga ikut keluar.

"Bersyukur saja, kamu masih bisa hidup. Selamat dari kebakaran itu. Pasti ada hikmahnya," ibu kasir yang tak lain budeku memberi tisu. Membiarkan aku menangis sepuasnya.

Aku menatap foto 5R Bapak yang terpajang dekat jam dinding. Itu saja yang tersisa dari kebakaran dahsyat akibat ledakan gas. Semua kejayaan pengusaha cilok musnah bersama pemiliknya.

"Terus hidup dan berjuang ya Nak, selalu ingat kalau Bapak sayang kamu."

Entah kenapa aku mengangguk. Foto itu tersenyum padaku. Berbahagia akan keputusan yang aku buat hari itu. Keputusan untuk merintis lagi usaha cilok yang dulu Bapak bangun. Bukan untuk menyenangkan Bapak. Namun agar kenangan yang aku miliki bersama bapak terus ada dan membuatku terus hidup nyaman di dalamnya.

 

*****


Cilok terbuat dari tepung tapioka atau aci. Jajanan murah meriah yang diberi bumbu kacang. Setiap daerah punya bumbu uniknya masing-masing.

Aku pribadi suka bumbu kacang dengan ulegan kacang yang masih ada kasarnya agar pas digigit ada tekstur kres.

Manis, pedes, gurih. Rasa dominan yang aku cari setiap menikmati cilok.

Tekstur kenyal cilok bercampur paduan rasa yang pas plus harga yang murah meriah membuat aci dicolok ini layak menjadi jajanan favorit.

Kenapa bisa dicolok? Ya bentuknya bulat. Tepung tapioka dicampur daun bawang, garam, merica bubuk, bawang putih cincang, baru dituang air panas dikit-dikit hingga kalis. Barulah bisa dibentuk bulat-bulat buat dicolok. Bisa juga air matang biasa lalu diaduk dengan api kecil hingga kecampur rata, dibuletin, direbus dengan sedikit minyak biar gak lengket.

Bentuknya awalnya memang bulat sempurna tetapi sekarang sudah ada varian kriwil. Jadi buat yang baru belajar tidak perlu insecure kalau tidak bulat sempurna. Hahaha…

Isiannya bagaimana? Ya bisa macam-macam ada tumisan potongan kecil daging sapi, jando, atau sekedar abon. Yang asli bahkan tidak ada isiannya. Cilok menggantungkan diri dengan tekstur kenyalnya dan kombinasi rasa bumbu kacangnya.

Ya kan awalnya jajanan anak-anak yang bisa dibeli seharga dua ribu perak. Kalau isiannya daging sapi bisa nangis yang jual dibeli dua ribu perak. Minimal lima ribu lah ya.

Di setiap bangun pagi, belajar lagi untuk antusias seperti anak kecil yang bangun untuk main atau makan atau menggambar. Nikmatilah tanggung jawab selayaknya anak kecil memandang bermain. Bukan pekerjaan yang harus diadu siapa yangpaling banyak menyelesaikan. Siapa pula yang paling bagus. Lama-lama kesenangannya akan hilang.

Keluarlah sebentar mencari cilok di sekitaran GOR atau di waduk, atau di alun-alun. Sambil menikmati gerimis dan angin malam. Jangan lupa helm juga jaket. Buktikan ketakutanmu! Pulang makan cilok yang ketika digigit masih mengepulkan asap. Isian daging sapinya meletuskan lemak di dalam mulut. Bertarung sengit dengan saos murah yang asam, manis kecap lokal, dan sambal yang cabenya direbus sempurna. Ditambah permicinan duniawi. Biarkan anak-anak makan bersamamu, memutuskan mau berhenti atau lanjut. Ya sensasi terbakar lidah karena pedas, anak-anak pilih sendiri mau menikmati atau berhenti. Tanpa paksaan, tanpa gemburan iming-iming untuk bisa jadi cerita kebanggaan. Ikhlaskan mereka berkembang sesuai waktu mereka sendiri.

Aku menemukan 3 penjual cilok yang dekat rumahku. Satu depan Rumah Sakit Ummu Hani Purbalingga, area dekat alun-alun, dan terakhir di GOR. Ketiganya memiliki keunikan sendiri. 


Mabok cilok.

Cilok Rizkuna, yang pertama kali menyapa adalah potongan daging sapi yang pecah di mulut. Masih terlalu pedas buat anak-anak terus potongan daging sapi belum terasa familiar di palet rasa mereka.

Indil Super Pak Misrun, pedesnya nonjok disambut rasa lemak sapi yang ringan jadi tensi mulut lansung turun. Gak ngomel-ngomel. Aku beli lima ribuan dua eh tiga bungkus. Satu dimakan bareng suami yang dua bungkus makan sendiri.

Abis itu lanjut Cilok Mblaged. Pedes manisnya meredam sensasi terbakar dari Indil Super Pak Misrun. 


Aku pribadi paling suka yang di area dekat alun-alun Purbalingga, karena aku suka paduan rasa yang pedas, manis, gurih. Gurih ya bukan asin. Gurih itu perpaduan antara kaldu, garam, dan gula. Menurutku begitu. Sementara asin adalah rasa murni garam. Dah itu saja.

*****

Jangan pernah lupa untuk bahagia. Meskipun dengan hal-hal yang murah meriah, kita semua harus terus bahagia. Membuat diri sendiri merasa ‘penuh’ dan ‘cukup’. Hidup sudah cukup menekan dan banyak masalah datang silih berganti atau kadang keroyokan. Bila masih butuh validasi ya akui, membenci mereka yang se-cari-perhatian itu malah akan terus menggerogoti hati. Apalagi jika kahidupan dewasa menuntutmu hidup di lingkungan yang lengkap dengan racun masing-masing. NPD (Narsistic Personality Disorder), penolakan diri terhadap penyakit mental pribadi tetapi merasa harus menuntut orang lain mengerti apa adanya, atau Bipolar. Boleh lari kok. Bisa kok menemukan bahagia di dalam diri sendiri. Asal mau berusaha lebih keras dan tahu kapan harus berhenti.

JANGAN MEMAKSA! 

(1129)

Komentar